Selasa, 03 Juni 2014




Tugas 

Kritik dan media seni


Seniman tanpa karya bukanlah seorang seniman,karna seorang seniman harus lah memiliki sebuah karya yang bisa membanggakan bagi seniman itu sendiri dan dalam sebuah seni pertunjukan sebuah karya yang dipentaskan haruslah memiliki sesuatu kesan bagi penonton atau penikmat nya bagi penonton dan sebuah karya tanpa seniman bukanlah karya ,karna tak mungkin ada karya tanpa hadirnya seorang seniman,kendatipun karya seni sudah dipergelarkan atau dipertunjukan atau dipemerankan ,dan sebuah karya tidak cukup hanya disitu saja atau hanya satu karya karna sebuah seniman harus memiliki lebih dari satu karya.dalam dunia seni yang dianggap penting adalah kritik dan mediasi seni.kritik yang dimaksut disini sebagai evalusai sebuah pertunjukan dari berbagi sisi karya seni,baik buruk nya sebuah karya dengan adanya kritik bisa meningkatkan kualitas sebuah karya itu sendiri.
Kritik berasal dari bahasa inggris yang artinya critic,berasal dari kata kritikos dari bahasa yunani krenein,yang bearti memisahkan ,mengemati,menimbang dan menimbang dan membandingkan.sebuah penilaian yang disebut kritik ,didalam sebuah kritik harus ada norma norma tertentu yang berfungsi sebagai dasar penilaian atau pembahsan terhadap seseuatu yang kita hadapi.kata kritik bisa juga dihubungkan dengan dengan kriteria sebuah seni pertunjukan .
Kritik bisa dibilang sesuatu yang memberi nilai atau penyampaian berita informasi pengetahuan atau gagasan dari seseorang  yang disebut kritikus yang mengkritik sebuah karya atau pertunjukan.
Menurut para ahli ,wellek (dalam sasongko ,2001;1)istilah kritik telah banyak ditemui dan dipakai berabad abad sebelum masehi ,terutama dalam bidang sastra.secara etimologis ,istilah tersebut berasal dari yunani kuno ,yakni krits yang berasal dari yunani kuno ,yakni krites yang bearti menghakimi.
Makna kat kritik  seiring dianalogikan dengan aktavitas yang bisa dilakukan seoarang hakim yang bisa mencakup kegiatan yang menimbang ,menelaah menafsirkan dan ahkirnya memutuskan vonis kepada si terdakwa.
Dalam kamus besar kritik ditulis secara umum yang beari kecaman atau tanggapan atau kupasan yang kadang disertai uraian dan pertimbangan baik buruk nya terhadap sebuah karya .
Kritiik itu sangat luas dan mencakuo berbagi lini aspek kehidupan  ,dan ada berbagai macam kritik  ,kritik sastra ,kritik seni lainya sepeti seni musik ,seni tari,seni teater,seni rupa ,seni film dan masih banyak lagi.
Kritik yang diutaraka darshono yang mengutarakan anya nya anggapan nya kritik seni merupakan satu kegiatan untuk memvonis satu hipotesis untuk menunjukan kekurangan dan kelemahan pada seniman dan karyanya.karna kritik selalu dikaitkan sebagai bentuk penghakiman ,vonis dan bahkan mencela hingga setiap kritikan harus mampu menahan rasa sakit bagi seniaman itu sendiri.
Seni berkemabang dengan cepat ,dengan bersamanya berkeembangan zaman sehingga akan terjadi perubahan yang begitu pesat.perubahan ini tentu mengundang berbagai permasalahan dari tingkat apresiasi masyarakat pencinta seni sampai kesadaran baru para seniman.kritik yang sehat dilahirkan karna penghargaan bukan karna alasan alasan senitmetal.
Kritik seni sebenarnya secara menyeluruh diwarnai oleh pola pikir kualitatif yang tujuan utama nya buknalah pembuktian suatu prediksi atau hipotesis ,tetapi adalah pemahaman untuk menemukan makna konteks.didalam aktivitas ,kritikus seni menghemban tugas berat didalam menerjemahkan dan membeberkan bahasa metaforis yang sangat pelik yaitu dari bahasa seni kedalam bahasa yang mudah dipahami agar penikmat menankap dan memahami makna suatu karya mendalam.
Seni itu diciptakan dan disajikan dalam beragam bentuk bagi terjadinya pengalaman estetik.permasalahan yang penting adalah terletak pada pemahaman struktur yang didasarkan pada pilihan sumber nilai pendukung kualitas karya sebagai sasaran kajian .nilai dari setiap karya seni pada dasar nya berkaitan langsung dengan tiga komponen utama dan bisa menunjang kehidupan seni bagi masyarakat ,yaitu hubungan tak terpisahkan anatar seniman dan karya seninya .
Komponen yang ada dalam seni tak lain adalah seniman karya seni dan penonton,itulah komponen yang mendukung kehidupan seni.karna tak bisa abaikan satupun dari ke tiga komponen tersebut.karena semua itu merupakan kesatuan yang dinamis memungkinkan seni hidup dan berkembang dalam masyarakat.karna sebuah seni hidup dan berkembang dengan nya yang kreatif dan dinamis.
Pertunjukan seni merupakan salah satu bentuk aktifitas yang dipertunjukan atau dipegelarkan .pementasan  atau pemerana merupakan rekayasa yang dibentuk atau dirancang untuk penonton penikmat seni secara lebih luas dan efektif .
Penonton adalah orang atau masyarakat yang datang untuk menyaksikan karya seni tanpa harus ada terbebani maksutnya,penonton datang hnya melihat dan menikmati sebuah pertunjukan karya seni.
Disini menurut dharsono(2007)
Yang berkata penghayat seni adalah penghayat makna pengalaman kehidupan batiniah yang sadar akan ragam kemungkinan bentuk estetis yang sanggup mewadai dan memacu terciptanya beragam makna dan nilai nilai .hanya dengan kesadaran fan pemahaman pengalam didalam  melakukan dialog dengan karya seni ,penghayat senpu mampu mendapatkan pencerahan bagi kehidupan sebagai manusia berbudaya.
Dalam penghayatan seni sesuai dengan latar belakang budaya dan fokusnya terhadap seni yang digeluti atau dinikmati serta pengalaman estetis dan kultural akan ,sangat berpengaruh dalam memaknai dan menilai karya seni .



















Minggu, 01 Juni 2014




YUDA  A2

SIAP COMEBACK DI DRAMA TERBARUNYA
Kabar berita.com.27 mei 2014
Sudah lama fakum dari dunia acting  yang telah membesarkan namanya dan lebih menggeluti dibidang penulisan,yuda A2 ahkirnya  siap comeback dengan drama terbarunya.artis darah jawa minang ini akan memainkan peran yang berbeda dengan peran-peran sebelumnya yang pernah ia mainkan.drama yang masih dirahasiakan judulnya ini ,membuat para fans bertanya”drama seperti apakah yang akan ia mainkan’tulis fands”
Berita yang memberitakan bahwa dirinya akan memainkan drama lagi dibenarkan oleh tulisan yang ia tulis diblog pribadinya
“buat semuanya tunggu aku kembali peranku beda dengan peran2 ku yang dulu”tulis yuda
Dikutip dari salah satu situs yang membenarkan .bahwa yuda A2 memang sekarang  lagi mempersiapakan drama terbarunya,sekarang dia lagi bekerja keras untuk persiapan comeback nya,karna ini dia sudah lama tidak memainkan drama,dan dia perlu waktu yang cukup untuk melatih dirinya”kata juru bicaranya”
Artis sekaligus penulis yang pernah memainkan drama”koran”yang sempat membesarkan namanya ini,memang  sudah lama tidak memainkan lagi drama dan bahkan sempat dikabarkan bahwa artis keturunan jawa minag ini pernah berkata dan berkoar koar bahwa dia sangat membenci dunia acting,kabar yang sebelumnya menghebohkan media,langsung dibantah oleh C a.ntertaimen.
Seperti apa drama yang akan dimainkan yuda A2,ini cukup membuat penasaran kita akan menyaksikan drama terbarunya yang belum diketahui judul dan kapan drama itu akan dimainkan.
Fans tentu dibuat bertanya tanya”drama apa yang akan ia mainkan dan siapa lawan mainnya nanti”komentar netter”




Sejarah Dan Peninggalan Kerajaan Siguntur  Dharmasraya


Kerajaan Siguntur
Kerajaan Siguntur adalah kerajaan yang berdiri semenjak tahun 1250 pasca runtuhnya Kerajaan Dharmasraya dan bertahan selama beberapa masa hingga kemudian dikuasai oleh Kerajaan Pagaruyung tapi sampai sekarang ahli waris istana kerajaan masih ada dan tetap bergelar Sutan.
Ahli waris yang memegang jabatan raja Siguntur hingga saat ini adalah Sutan Hendri Kalau diperhatikan dari raja-raja yang pernah memerintah, kerajaan ini juga bernaung dibawah kerajaan Pagaruyung dibawah pemerintahan Adityawarman. Bahasa yang dipergunakan di kerajaan Siguntur adalah bahasa Minang dialek Siguntur, yang mirip dengan dialek Payakumbuh.
Peninggalan Kerajaan ini menyisakan sebuah jenis tarian yang disebut Tari Toga (Tari Larangan), sebuah tarian yang mirip dengan tarian Melayu dan tarian Minang. Tari Toga menjadi tari resmi kerajaan dan ditampilkan pada upacara penobatan raja (batagak gala), pesta perkawinan keluarga raja, upacara turun mandi anak raja, perayaan kemenangan pertempuran, dan gelanggang mencari jodoh putri raja.
Ketika Belanda berhasil masuk ke Siguntur pada 1908 dan raja-raja di Siguntur dan sekitarnya terpaksa mengakui kedaulatan Pemerintahan Kolonial Belanda, raja kehilangan kedaulatannya. Banyak benda kerajaan yang diambil, termasuk tambo (riwayat kerajaan yang tertulis) dan aktivitas kesenian kerajaan, termasuk Tari Toga, pun vakum sudah.
“Tari Toga nyaris hilang, tari itu sudah lama tidak dimainkan dan hanya diingat dengan cerita turun-temurun, saya mengumpulkan informasi lagi dan menghidupkan kembali pada 1989,” kata Tuan Putri Marhasnida, salah seorang pewaris Kerajaan Siguntur kepada PadangKini.com. Marhasnida adalah adik sepupu raja sekarang, Sultan Hendri Tuanku Bagindo Ratu.
Ketika dirintis Marhasnida pada 1980-an, para penari dan pendendang sudah banyak yang meninggal. Untunglah ada seorang kakek yang usianya sudah lebih 80 tahun. Ia bekas pendendang yang masih hidup. Sang kakek masih hafal semua dendang Tari Toga karena sejak tidak lagi berdendang, ia sering melantunkan dendangnya ketika Batobo.
Batobo adalah membersihkan kebun atau menyabit di sawah bersama-sama, 30 sampai 60 orang. Si pendendang selalu Batobo agar orang-orang tak bosan bekerja seharian, ia disuruh berdendang sambil bekerja.
“Itulah sebabnya syair tetap diingat, sedangkan tarinya masih ada seorang nenek yang sudah bungkuk mengingatnya, dari ingatan itulah saya susun kembali dan melatih remaja di keluarga Kerajaan Siguntur untuk menarikan Tari Toga,” kata sarjana pendidikan seni Institut Kejuruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Padang (kini Universitas Negeri Padang) yang kini menjadi guru kesenian di SMP Negeri II Pulau Punjung, Dharmasraya itu.
Tari Toga modifikasi Marhasnida ini kemudian ditampilkan di Radio Republik Indonesia (RRI) Padang pada 1990 dan dimainkan dalam berbagai acara Kerajaan Siguntur, termasuk menyambut peserta “Arung Sejarah Bahari Ekspedisi Pamalayu” yang diselenggarakan Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Padang, akhir Desember tahun lalu.
Raja-Raja SigunturBerikut raja-raja Siguntur: a. Periode Hindu-Buddha Sri Tribuwana Mauliwarmadewa (1250-1290),Sora (Lembu Sora) (1290-1300),Pramesora (Pramesywara) (1300-1343),Adityiawarman (kanakamedinindra) (1343-1347), –bersamaan dalam memerintah Dharmasraya dan Pagaruyung.Adikerma (putra Paramesora) (1347-1397),Guci Rajo Angek Garang (1397-1425), danTiang Panjang (1425-1560).
b. Periode Islam
Abdul Jalil Sutan Syah (1575-1650),Sultan Abdul Qadir (1650-1727),Sultan Amiruddin (1727-1864),Sultan Ali Akbar (1864-1914),Sultan Abu Bakar (1914-1968),Sultan Hendri (1968-sekarang)—hanya sebagai penjabat saja, tanpa kekuasaan karena kerajaan Siguntur tinggal nama saja.
Sejarah kerajaan Siguntur belum banyak diketahui, namun menurut sumber lokal menyebutkan bahwa daerah Siguntur merupakan sebuah kerajaan Dharmasyraya di Swarnabhumi (Sumatera) yang berkedudukan di hulu sungai Batanghari, sungai ini melintasi Provinsi Jambi dengan muara di laut Cina Selatan. Sebelum agama Islam masuk ke wilayah Minangkabau atau Jambi, kerajaan Siguntur merupakan kerajaan kecil yang bernaung di bawah kerajaan Malayu, namun pernah bernaung pula pada kerajaan Sriwijaya, Majapahit, Singasari, dan Minangkabau.
Pada tahun 1197 S (1275 M) Siguntur merupakan pusat Kerajaan Malayu dengan rajanya Mauliwarmadewa bergelar Sri Buana Raya Mauliawarmadewa sebagai raja Dharmasyraya. Sedangkan dalam prasasti Amonghapasa menyebutkan bahwa pada tahun 1286 Sri Maharaja Tribhuwanaraja Mauliawarmadewa bersemayam di Dharmasyraya daerah pedalaman Riau daratan. Dengan kata lain kerajaan Swarnabhumi pada waktu itu telah dipindahkan dari Jambi ke Dharmasyraya.
Melihat kedua pendapat tersebut, ada kemungkinan pada abad 12 kerajaan Siguntur ini berasal dari kerajaan Swarnabhumi Malayupuri Jambi. Abad 14 agama Islam masuk ke Kerajaan Siguntur. Pada waktu itu yang berkuasa adalah raja Pramesora yang berganti nama menjadi Sultan Muhamad Syah bin Sora Iskandarsyah. Selanjutnya kerajaan Siguntur bernaung dibawah Kerajaan Alam Minangkabau.
Salah satu bukti Kerajaan Siguntur menganut agama Islam terlihat pada masyarakat yang memegang prinsip syarak bersandi Kitabullah. Selain itu, ditemukan pula dua buah stempel kerajaan Siguntur berbahasa Arabh yang menyebutkan bahwa “Cap ini dari Sultan Muhammad Syah bin Sora Iskandar atau Muhammad Sultan Syah Fi Siguntur Lillahi” dan “Cap ini bertuliskan bahwa Al-Watsiqubi ‘inayatillahi’ ‘azhiim Sutan Sri Maharaja Diraja Ibnu Sutan Abdul Jalil ‘inaya Syah Almarhum.” Dan diperkirakan pada masa inilah Masjid Siguntur didirikan.
Pembangunan Mesjid Siguntur Dalam kompleks Masjid Siguntur terdapat makam Raja-raja Siguntur yang terdapat di sebelah utara bangunan masjid. Kompleks makam berdenah segi lima dengan ukuran panjang yang berbeda. Makam dibuat sangat sederhana, hanya ditandai dengan nisan dan jirat dari bata dan batu. Dari sekian banyak makam hanya enam makam yang diketahui, yaitu makam Sri Maharaja Diraja Ibnu bergelar Sultan Muhammad Syah bin Sora, Sultan Abdul Jalil bin Sultan Muhammad Syah Tuangku Bagindo Ratu II, Sultan Abdul Kadire Tuangku Bagindo Ratu III, Sultan Amirudin Tuangku Bagindo Ratu IV, Sultan Ali Akbar Tuangku Bagindo V, dan Sultan Abu Bakar Tuangku Bagindo Ratu VI.
Pada tahun 1957 telah dilakukan rehabilitasi lantai masjid dari papan menjadi plesteran semen oleh ahli waris dan masyarakat setempat. Kegiatan studi kelayakan terhadap Rumah Adat dan Masjid Siguntur dilaksanakan pada tahun 1991/1992 oleh Bagian Proyek Pelestarian/Pemanfaatan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Sumatera Barat, Kanwil Depdikbud Provinsi Sumatera Barat Masjid Siguntur dipugar dengan kegiatan antara lain: pembongkaran atap beserta rangkanya, tiang, pondasi, dinding, dan lantai. Kemudian pemasangan kembali yang baru. Pekerjaan lainnya yaitu pembongkaran pintu dan jendela, pembuatan selasar, pagar beton, pagar kawat berduri, serta pintu besi. Terakhir pengecatan rangka atap dinding, pintu, jendela, dan pagar tembok.




SEJARAH SENI TEATER

Dalam sejarah, seni teater tercatat dimulai sejak jauh sebelum tahun 500 SM. Pada awalnya, Teater hanya dilakoni sebagai sebuah upacara ritual keagamaan ribuan tahun sebelum Masehi. Beberapa bangsa kuno yang memiliki peradaban maju, seperti bangsa Maya di Amerika Selatan, Mesir Kuno, Babilonia, Asia Tengah, dan Cina, menggunakan bentuk teater sebagai salah satu cara untuk berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Biasanya yang mendalangi seluruh upacara ritual itu adalah dukun atau pendeta agung.
Sejarah mencatat, seni teater berfungsi hanya sebagai upacara ritual (keagamaan), melainkan berfungsi pula sebagai kesenian atau hiburan. Peristiwa teater yang mensyaratkan kebersamaan, saat, dan tempat, tetaplah menjadi persyaratan utama kehadiran teater sejak ribuan tahun sebelum Masehi, sehingga pada zaman Yunani teater pun selalu hadir dengan persyaratan yang serupa. Berdasarkan penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa sesuatu dapat disebut teater jika ada keutuhan tiga kekuatan, berupa: orang teater, tempat, dan komunitas penonton. Tiga kekuatan inilah yang bertemu dan melahirkan sinergi dan melahirkan “peristiwa teater”.
Dalam sejarah, seni teater pada zaman Yunani dikenal sebagai zaman yang melembagakan konvensi berteater yang masih memiliki pengaruh sampai sekarang. Mantra-mantra yang mulanya hanya lisan dan tak tertulis, berlangsung menjadi naskah tertulis, sementara doa-doa berubah bentuknya menjadi kisah atau lakon. Yunani melahirkan tokoh penelitian naskah drama, antara lain Aeschylus (525-456 SM), Sophocles (496-406 SM), Euripides (480-406 SM), dan Aristophanes (sekitar 400 SM). Mereka adalah bapak moyang para peneliti naskah drama.
Pada perkembangan sejarah seni teater berikutnya, upacara keagamaan lebih menonjolkan penceritaan. Sekelompok manusia bergerak mengarak seekor kambing yang sudah didandani dengan berbagai perhiasan. Mereka menggiring persembahan itu mengelilingi pasar atau jalan raya diiringi bunyi tambur, seruling, dan bunyi-bunyian lain. Iring-iringan itu memperlambat jalannya, apabila penonton bertambah atau berhenti untuk memberi kesempatan kepada narator (pencerita) yang mengisahkan suatu peristiwa. Narator mengisahkan salah satu dewa kepada penonton yang berderet-deret di pinggir jalan atau berdiri mengerumuninya.